Teknologi Gajet Ancam Sosial Individu
Kenyataan sekarang di indonesia khususnya di kota. Orang-orang kota memiliki sikap yang individualisme, sulit mengambil inisiatif ketika bertemu dengan orang baru,merasa tidak penting akan keberadaan orang lain. Semua ini adalah akibat dari dampak buruk teknologi itu sendiri. Jeleknya kehidupan dilihat dari sikap sosial masyarakatnya, tanpa bersosial dan bermasyarakat maka keharmonisan dalam kelompok atau masyarakat ataupun dalam berbangsa dan bernegara tidak akan terlihat. Kehidupan akan terasa hambar tanpa adanya kontak langsung secara lisan antara individu dengan individu ataupun individu dengan kelompok serta kelompok dengan kelompok. Adanya kebutuhan yang terkait akan teknologi, menyebabkan masyarakat ataupun individu untuk bergantung kepada teknologi guna untuk memenuhi kepentingan dalam pekerjaan ataupun kepentingan diri sendiri. Sebagaimana kenyataan sekarang teknologi sudah mengambil peran penting dalam kehidupan individu maupun kelompok. Akibat ketergantungan kepada teknologi inilah membuat masyarakat lebih mementingkan teknologi yang sedang dia pegang daripada orang sekitarnya, hal inilah yang membuat individu di masa modernisasi ini bersifat individualisme atau apatisme. Kita boleh saja mengunakan teknologi guna untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak mungkin juga kita tidak menggunakan alat yang sudah disediakan untuk mempermudah kita baik dalam berkomunikasi, mencari informasi, mengekspresikan diri dan juga mengakses kebutuhan ekonomi. Tetapi jangan sampai karena kecanduan kita dalam menggunakan teknologi membuat kita lupa akan bersosial dan bermasyarakat. Sebagaimana bersosial adalah salah satu bentuk kepedulian kita terhadap manusia lainnya dan juga bersosial menunjukkan bahwa kita manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu bergantung dan membutuhkan bantuan orang lain.
Pengaruh teknologi berupa geget/gawai tidak hanya merusak kehidupan sosial masyarakat tetapi juga merusak jiwa, kepribadian dan karakter penggunanya. Seperti yang telah terjadi pada anak-anak di Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bandung Barat. Diberitakan kurang lebih 150 anak usia lima sampai lima belas tahun masuk Rumah Sakit Jiwa Cisarua karena mengalami gangguan penyerta akibat ketagihan main geget. Tentunya berita ini sangat menyedihkan sekali untuk kita dengar, anak yang seharusnya bermain di luar dan mengenal lingkungan tetapi malah mengalami ganguan penyerta akibat teknologi berupa geget. Sangat disayangkan jika perhatian orang tua menjadi penyebab utama dalam kasus ini. Jika kurangya perhatian orang tua terhadap anak dikarenakan faktor pekerjaan tentunya ini menjadi stigma yang mendasar daripada orang tua.
Pengaruh teknologi ini jika kita perhatikan dengan ilmu dan pemikiran yang baik, tentunya kita akan sangat memberikan keterbatasan terhadap teknologi ini. Kecanduan dalam menggunakan gaget atau sosial media, game dan lainnya akan sangat berpengaruh kepada kepribadian sesorang. karena teknologi menyajikan hal-hal yang sangat mudah dan cepat kita akses, kita akan disuguhkan kemudahan ketika mengunakan teknologi. Dalam penggunaan teknologi kita dibiasakan dengan hal-hal yang cepat, pertukaran antara gambar yang satu dengan gambar yang lainnya membuat kita terbiasa dengan hal-hal yang mudah/cepat. Jadi pengaruhnya adalah kita akan lebih enggan dalam bekerja keras, malas untuk berusaha karena dibiasakan akan hal-hal yang cepat dan mudah seakan menginginkan sesuatu mudah dan cepat didapat. Jadi tidak heran jika anak-anak sekarang kurang dalam berprestasi, tidak suka mengusahakan keinginan karena tidak terbiasa akan hal-hal yang sulit, enggan dalam berusaha. Karena mereka dari kecil sudah akrab dengan geget/gawai.
Perhatian orang tua akan pengaruh teknologi terhadap anak sangat perlu diperjelas kembali. Orang tua harus lebih kreatif dalam membelikan mainan ataupun memberikan hadiah kepada anak. Alangkah baiknya orang tua memberikan buku untuk anak sebagai mainannya atau teman duduknya. Karena buku adalah salah satu media yang dapat mengantisipasi pengaruh kecanduan teknologi berupa geget tadi. Buku menyajikan tulisan-tulisan yang mendorong anak untuk berfikir dan memberikan pengetahuan yang luas terhadap anak. Ketika anak membaca buku, dia akan dibiasakan untuk melihat, membaca sambil berfikir. Buku menyediakan lambang-lambang tulisan yang membuat perhatian anak terfokus kepada suatu titik yang akan dia baca, itu akan mengontrol ruang gerak anak yang terbiasa dengan hal-hal yang cepat tadi. Karena dia harus membaca dan memahami kata demi kata dan kalimat demi kalimat. Jika orang tua dapat menggantikan geget dengan buku maka ini akan bernilai produktif terhadap anak. Karena orang tua adalah fokus utama dalam peranan mengantisipasi pengaruh teknologi. Maka orang tua harus dapat merealisasikanya terhadap anak guna untuk memberikan penghidupan yang sosialistis dan berdaya produktif.
Komentar
Posting Komentar