Aku dan Auratku
Di suatu pagi yang cerah, aku selalu menjalani hariku dengan olahraga yaitu joging. Menurutku waktu pagi merupakan suatu kondisi udaranya terasa sejuk, sehat, dan menyenangkan. Aku selalu menjalani hari dengan keinginan dan hobiku. Aku berpegang teguh pada prinsip hidupku adalah pilihanku. Tapi satu hal yang tidak pernah luput dari pikiran dan kegiatanku adalah sholat lima waktu. Aku memang wanita yang tomboy dan nakal, tapi aku juga tau bagaimana seharusnya aku sebagai hamba yang diciptakan. Kulit yang kuning dan tubuh yang langsing merupakan suatu keunggulan bagiku. Aku pikir ini merupakan buah hasil dari olahragaku selama ini.
Di setiap pagi aku selalu bangun awal waktu dan sholat subuh. Selesai sholat subuh aku selalu mnggunakan pakaian olahragaku. Tanpa hijab, pakai sepatu, ambil handphon, pasang handset dan aku pun lari. Aku selalu melakukan hal ini setiap hari. Akan tetapi ada sesuatu yang janggal dalam kegiatan yang aku lakukan di setiap pagi ini. Pandangan itu, Pandangan itu sungguh menggangguku, dia adalah Pak Suli. Dia selalu memandangiku dengan pandangan yang buruk dan itu sangat tidak aku sukai. Padahal banyak orang yang memandangiku, baik pemuda maupun bapak-bapak selalu memandangiku baik bahkan mereka memberiku senyum. Tapi bapak ini lain, Pak Suli selalu ke mesjid di setiap waktu terutama subuh dan pulangnya selalu agak kesiangan. Jalur jogingku sejalan dengan perjalanannya dari mesjid menuju rumahnya. Setiap aku joging di pagi hari aku selalu bertemu dengannya. Aku sungguh heran kenapa aku selalu bertemu dengannya saat dalam perjalanan jogingku. Dia slalu menatapku dan tatapannya itu sangat tidak aku sukai. Saat dia menatapku, dalam tatapannya itu aku merasa diriku banyak salah di matanya. Padahal aku tidak mengangu kehidupannya. Aku cuma lari di dekat perkarangan rumahnya,di setiap kali dia menatapku aku selalu ingin menemuinya dan bertanya mengapa dia demikian. Tapi aku tidak berani dengan semua itu. Kadang aku tidak peduli dengan tatapanya, aku selalu fokus dengan jalanku.
Itulah yang selalu aku alami saat aku pergi joging di pagiku. Semua itu cukup menggangu bagiku dan aku bosan dengan semua tatapanya. Rasa penasaranku semakin besar dengan semua tatapannya itu. Apa sebenarnya salah ku? Dan aku pun berniat untuk menemuinya.
Dengan rasa percaya diri dan penuh rasa penasaran, aku pergi ke jalanan itu dan ingin menemuinya dan berbicara denganya. Saat aku ke jalanan tersebut aku tidak melihat seorang pun di sana. Demi rasa penasaranku,aku rela menunggu di jalan tersebut. Aku duduk di tepi jalan di bawah pohon mangga kebetulan di situ ada tempat duduk. Sekian lamaku menunggu, aku tidak melihat seorang pun yg keluar dari perumahan yg berada di dekat jalanan tersebut. Aku mulai bosan dengan penantianku. Melihat situasi dan tidak ada kemungkinan untuk bertemu dengannya, aku langsung pergi dan berencana untuk besok datang lagi. Setelah aku jalan beberapa langkah, tiba-tiba ada kakek-kakek yang keluar dari rumahnya yang ingin membuang sampah dalam tong sampah di halaman rumahnya. Aku langsung cepat-cepat menghampiri kakek tesebut.
"Maaf kek, Sebelumnya saya izin bertanya,"
"Iya, Ada apa neng,?"
"Bapak yang punya rumah ini mana ya kek.? "
"Oh, Pak Suli maksud neng.? "
"Iya kek."
"Pak Suli sekarang pergi ke luar kota neng ada keperluan.. "
"Oh, begitu kek."
"Iya neng."
"Kira-kira kapan pulangnya kek?"
"Kurang tau saya neng,"
"Yaudah, makasih ya kek,"
"Ya."
Aku pulang dengan keadaan yang sama saat pertama kali pergi. Hati ku masih diselimuti oleh rasa penasaran, perasaannku masih kurang senang ingin menannyaka banyak hal kepada kakek tersebut.
Dan keesokan paginya, aku melaksanakan aktivitasku seperti biasanya. Aku mngenakan pakaianku, sepatu, handsat, dan akupun lari. Saat aku dalam perjalanan joging dipaginya,akhirnya aku bertemu dengan Bapak Suli tersebut. Dan bapak tersebut juga menatapku dengan tatapan yang sama seperti biasanya. Dengan rasa penasaran aku datang menghampiri Bapak Suli.
"Maaf pak, dari kemaren-kemaren bapak kok selalu menatapku dengan tatapan begitu,emang aku salah apa pak.? "
Pak Sulipun tersenyum sambil bertanya
"Saudara tidak tau apa kesalahan Saudara,? "
"Tidak pak"
"Agama Saudara apa?"
"Islam Pak"
"Pernah sholat?"
"Pernah Pak, Insya Allah itu tidak pernah saya lupakan Pak,"
"Saudara tau tidak kesalahan Saudara?" Pak Suli mengulang pertanyaannya yang tadi. Aku cukup heran dan berfikir kenapa Pak Suli bertanya itu lagi.
"Tidak pak."
"Saudara tau aurat Saudara."
Saat bapak bertanya hal demikian,tiba-tiba badanku gemetar seakan-akan Aku telah melakukan dosa besar.
"Tau Pak. "
"Lantas,Mengapa Saudara berpakaian seperti ini."
Pakaian ku waktu itu,celana pendek, baju lengan pendek, tidak pake jilbab.
Aku pun terdiam dan merasakan kesalahan ku yang merupakan kesalahan yang sering kulakukan.
"Saudara tau tidak? Saudara itu seorang mukmin, perempuan, saat waktu pagi aku selalu melihat Saudara lari di sini dengan pakaian seperti ini. Saudara tau tidak bagaimana pandangan para laki-laki melihat Saudara berpakaian seperti ini. Pagi-pagi ini, seharusnya Saudara hendaknya berfikir bagaimana untuk menutup aurat saudara dan melaksanakan pekerjaan rumah. Ini Saudara malah sibuk memperlihatkan aurat Saudara setiap paginya ke sana kemari. Hari masih pagi Saudara sudah membagi-bagikan dosa kepada para laki-laki. Saudara tau tidak gimana azabnya ayah Saudara jika Saudara keluar rumah tanpa menutup aurat.” Gusarnya dengan tatapan tajam.
Aku hanya menunduk akan omongan Pak Suli. Dalam fikiranku aku sangat dihantui oleh rasa bersalah.
"Saudara ingat, satu langkah saja Saudara keluar rumah tanpa menutup aurat, satu langkah Pula ayah Saudara utuk dekat ke neraka. "
Mendengar perkataan Bapak Suli, air mataku pun langsung mngalir dan aku merasa sangat berdosa akan tingkah lakuku.
"Ma'afkan saya Pak. "
"Saudara tidak perlu minta ma'af kepada saya. Minta ampunlah kepada Allah Bertobatlah kepadanya, saya pergi dulu ya."
Pak Suli langsung pergi menuju rumahnya.
Aku dengan penuh rasa bersalah langsung menuju pulang dan bergegas mandi. Seharian itu aku hanya merenungi perkataan Bapak Suli kepadaku. Air mataku terus mengalir hingga aku tidak sadar bahwa waktu sholat zuhur sudah masuk. Dengan begitu, akupun sholat ,setelah sholat zuhur aku kembali merenungi perkataan Bapak Suli tadi hingga aku tertidur.
Aku tidak tau dimana aku, aku tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya dan aku sendirian kesepian dan tiba-tiba ada seseorang yang mendekataiku aku terkejut. Aku sangat heran dengan orang ini,dia sangat mirip dengan Pak Suli Tetapi aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, wajahnya putih dan bercahaya. Mataku tak sanggup melihat wajahnya karena cahayanya,tapi postur tubuhnya dan gayanya, dia sangat mirip dengan Pak Suli. Aku yakin sekali bahwa dia adalah Pak Suli. Tiba-tiba dia memegang tanganku menarikku dan membawaku. Aku sangat heran padanya, dia tdak bicara sepatahpun. Dia cuma diam dan memegang tanganku. Aku sungguh tidak tahu kenapa langkah kakiku bergerak sesuai dengan jalan yang dituntunya. Aku tidak tahu kemana dia akan membawaku. Kami terus berjalan dan tiba-tiba kami sampai di suatu tempat. Aku sungguh tercengang melihat tempat tersebut. Tempat apa ini.? Hatiku luluh dengan pesona tempat ini. Saat aku melihat tempat tersebut aku merasa bahagia sekali. Saat aku melihatnya, aku hanya merasakan kebahagiaan, aku ingin sekali singgah dan duduk disana sebentar. Tidak lama kemuadian, orang yang tadi membimbingku bicara "ini adalah surga". Aku tidak mengenal suaranya karena aku terlalu terfokus dengan keindahan tempat itu yang terdengar dalam telingaku yang dibicarakanya adalah surga. Dengan tak sengaja akupun langsung melangkahkan kakiku ke tempat yang amat indah tersebut. Tapi setiap injakan kakiku kulangkahkan tempat tersebut semakain jauh. Semakin banyak langkah kakiku tempat tersebut semakin jauh dimataku. Akupun berlari, semakin ku berlari tempat tersebut semakin jauh dan hilang. Air mataku pun berlinang, dengan kehilangan tempat tersebut aku kembali dalam kegelapan dan datanglah kembali cahaya tadi yaitu seseorang yang mendampingiku tadi. Setelah itu kamipun berjalan lagi, saat dalam perjalanan aku merasakan hawa panas di tubuhku. Semakin jauh kami berjalan makin panas yang aku rasakan. Aku takut dan cemas akan bimbinganya, aku berusaha berhenti tapi langkah kakiku selalu bergerak sesuai dengan bimbinganya, aku heran kenapa ini? Saat itu air mataku mengalir, akan tetapi, air mataku kering dan habis oleh hawa panas tersebut. Setiap kali air mataku mengalir selalu habis dan kering dengan hawa panas tersebut.
Dan akhirnya kami tibalah di suatu tempat. Aku sungguh terkejut melihat tempat ini. Aku tidak kuat melihat ini, tapi setiap kali aku mengalihkan pandanganku tempat itu selalu berada di depan mataku, air mataku pun mngalir dan kering oleh panasnya hawa tempat tersebut. Mengalir dan kering lagi. Seketika itu orang yang mendampingiku tadi bicara "Ini adalah neraka." Aku mendengar suaranya dengan jelas. Suaranya persis sama dengan suara Pak Suli. Di saat itu aku tak sanggup menahan air mataku, aku menangis sejadi-jadinya, tapi setiap kali air mataku keluar di saat itu juga kering. Aku sangat takut melihat tempat tersebut, tapi aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari tempat itu. Seakan-akan aku berada di tengah-tengah tempat tersebut. Dan aku heran, Aku melihat di tempat itu banyak perempuan. Tapi knapa ya,? Dan tiba-tiba aku melihat ayahku yang tengah tersiksa di dalamnya. Aku sungguh tidak tega melihat ayahku yang tersiksa di situ. Aku ingin sekali menolong ayah dan mengeluarkanya dari sana. Tapi apalah dayaku, aku hanya bisa menangis dan melihat ayah yang tengah tersiksa di sana. Tubuhku terasa hangat akan hawa tempat tersebut dan juga gemetar. Aku sungguh tidak tega melihat ayahku yg tersiksa di tempat itu, dengan tidak peduli aku langsung berlari ingin menolong ayah, tapi dengan tiba-tiba seseorang tadi menarikku. Aku kaget langsung bangun, aku tidak sadar bahwa itu semua mimpi. Badanku berkeringat dan panas, saat aku bangun aku melihat bnyak orang disekelilingku memegang al-Qur'an, aku berada di tengah mereka. Aku heran dengan semua ini, perasaan aku hanya tidur tiga jam. Disaat aku bangun semua orang tercengang dan takut melihatku. Tiba-tiba ibuku langsung memelukku sambil menangis, aku semakin heran.
"Ibu kenapa bu"?
"Kamu sudah tidur selama satu minggu nak, tidak bangun-bangun, ibu kira kamu sudah meninggal. "
"Perasaan aku tidur tiga jam bu,"
"Tidak nak,"
Ibuku terus memelukku sambil menangis. Aku langsung membalas pelukan ibu. Saat itu aku melihat ayahku, akupun langsung memeluk ayahku sambil menangis dan minta maaf.
"Ayah,ma'afkan aku ya Ayah, aku sangat-sangat berdosa kepadamu Yah," aku bersujud kepada Ayahku.
"Sudahlah nak,bangunlah."
"Aku minta ma'af Ayah."
"Iya sudahlah, Ayah sangat senang kamu tidak apa-apa."
Semua orang di sekelilingku takut dan heran melihatku. Mereka mengira aku sudah meninggal. Melihat keadaanku yang tidak apa-apa, mereka semua pulang ke rumahnya masing-masing. Dan ceritaku langsung beredar karena aku yang dikiranya sudah meninggal tapi bangun kembali. Aku langsung menjadi topik pembicaraan yang diangap mati suri. Aku tak menghiraukan semua itu.
Aku slalu teringat akan mimpiku itu. Di setiap awal dan akhir kegiatan hariku. Setelah hari itu, aku tidak mau dengan semua yang aku sukai sewaktu dulu. Aku juga selalu menutup auratku, aku tidak akan keluar rumah jika itu tidak penting bagiku. Setiap kali aku melakukan dosa yang terbayang olehku mimpiku saat di neraka dan setiap kali aku melaksanakan ibadah yang terbayang olehku adalah tempat indah yang ada dalam mimpiku. Tempat indah itu sudah menjadi motivasiku untuk mencintai sang penciptaku yaitu Allah ta'ala. Aku selalu taat dan takut akan dosa. Disitu Ayah dan Ibu bangga dan senang dengan perubahanku. Dan membuat mereka juga taat kepada Allah swt. Alhamdulillah.
Dan sekarang hobiku setelah sholat subuh bukan joging atau lari pagi lagi, setiap selesai sholat shubuh aku selalu melakukan penghafalan dan membaca kitab al-Qur'an. Aku selalu mengisi waktu luangku untuk beribadah kepada Allah baik itu yang sunnah maupun yang wajib. Dan sekarang itu merupakan hobi baruku. (Alhamdulillah ya Allah.)
-Penyimpanan_Luka-
Bismillah, postingan pertama. 😊
BalasHapusMasih banyak penulisan yang harus diperbaiki. Buka kembali ebi ya
BalasHapusIya, Trima kasih kritik dan sarannya. 😊
Hapus